![]()
SERGAI | Patroli24jam — Dugaan penggelapan uang SPP sebesar Rp60 juta oleh oknum Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Dolok Masihul, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, menggemparkan para guru serta pegawai honorer. Akibatnya, puluhan tenaga pengajar, penjaga malam, hingga petugas kebersihan mengaku telah enam bulan tidak menerima gaji.
Informasi yang dihimpun di lapangan pada Kamis (4/12/2025), Ketua Komite Sekolah bersama anggota komite turun langsung mempertanyakan keterlambatan pembayaran gaji yang dinilai tidak wajar. Para guru honorer bahkan menyebut sebagian dari mereka ada yang tidak menerima gaji sama sekali sejak bulan Juli hingga Desember 2025.
Bendahara Komite Dipecat Sepihak
Bendahara Komite, Br. Nainggolan, mengaku dipecat sepihak oleh Kepala Sekolah Misriyani, S.Pd., M.Si. Ia menyebut terdapat sisa uang SPP sebesar Rp10 juta yang sengaja tidak diserahkan kepada kepala sekolah karena masih banyak gaji guru honorer yang belum dibayarkan.
“Saya mempertahankan uang itu karena gaji rekan-rekan belum dibayar. Saya juga mendapat tekanan batin karena mereka terus ditagih gaji,” ungkapnya.
PLN Hampir Putus Listrik Sekolah
Selain soal gaji, sekolah juga hampir mengalami pemutusan aliran listrik oleh PLN Dolok Masihul. Beruntung, bendahara sekolah mendahulukan uang pribadinya sebesar Rp7 juta untuk membayar tunggakan tersebut.
Kepsek Diduga Jarang Masuk Kantor
Beberapa guru honorer mengaku kesulitan menghubungi kepala sekolah. Mereka menyatakan bahwa Misriyani jarang masuk kantor dan tidak menjalankan tugas sebagaimana mestinya.
Seorang penjaga malam yang enggan disebutkan namanya mengatakan:
“Kami belum digaji sejak bulan 7 sampai 12. Telepon tidak pernah diangkat. Kami punya keluarga, kami butuh makan. Ini sudah akhir tahun.”
Ketua Komite: Uang SPP Rp60 Juta Dibawa Kepala Sekolah
Ketua Komite SMKN 1 Dolok Masihul, Situmorang, mengungkapkan bahwa awalnya pengutipan SPP dilakukan atas persetujuan komite. Setelah terkumpul Rp60 juta, kepala sekolah meminta agar bendahara menyerahkan uang tersebut kepadanya secara langsung di salah satu lokasi pantai di kawasan Pantai Lestari.
Namun hingga kini, dana tersebut tidak jelas penggunaannya dan tidak dipakai untuk membayar gaji para guru dan pegawai honorer.
“Kami berharap uang itu dipakai untuk membayar gaji guru dan pekerja. Tapi sampai sekarang uangnya tidak berwujud. PLN hampir putus, guru tak digaji,” tegas Situmorang.
Diduga “Dikawal” Oknum LSM
Saat wartawan memantau kegiatan di sekolah, kepala sekolah terlihat dikawal ketat oleh seseorang yang disebut-sebut merupakan anggota LSM yang diduga mem-backup kesalahannya.
Kasus ini kini menjadi sorotan masyarakat dan para orang tua siswa yang kecewa dengan kondisi manajemen sekolah.
Bersambung… (Tim)
